Monday, April 8, 2013

[Cerber]The Pasta Killer

Ditengah-tengah mengetik nomor Tony, aku mendapat ide segar. 'Tak serumit yang kukira ternyata' lalu kutelepon Tony. "Yak!Benar sekali!Ini informasi penting!"Teriak ku ditelepon saat menelpon Tony. "KAU BELUM MEMBERITAHUKU BODOH!!!!" Nada Tony naik "Sepertinya kau emosi" Jawabku polos, datar dan tanpa dosa... Kudengar Tony menghela nafas panjang kemudian berkata "Kau dimana sekarang?Kita akan ke kantor untuk meminta keterangan...Cepatlah kemari atau kau ingin berangkat sendiri ke kantor?" "HEY!Jangan biarkan mereka pergi dulu!Nanti barang bukti nya hilang!!"Cegahku. "Kau sudah tau pelakunya?" "Iyalah bodoh, manaa mungkin aku menghentikanmu kalau aku belum tahu!!!Tunggu disana!Aku segera datang"  Langsung kututup teleponku walau tahu Tony mencegahku, dan segera kuberlari ke TKP.

Hawa TKP tegang seperti biasanya. Pelakunya disana...Walau seberapa besar dia menyembunyikan barang bukti yang penting itu. "Bagaimana kau tau siapa pelakunya jika kita belum meminta keterangan semuanya??"Tony berbisik padaku. "Itulah kehebatan Alex" Kata ku bangga. "Selamat malam para saksi!!"sapaku ramah ke semua orang disana. "Dan juga pelaku disini!" Lanjutku memasang muka Random sambil tersenyum random pula..

"Namaku Alex, Polisi sekaligus detektif di kasus ini... Ak.. Eh, Saya, rasa tanpa memberitahu pelakunya pun, setelah kami pergi dia akan menyerahkan diri ke Polisi..Benar, Nyonya?"Tatapanku langsung menuju pada...........................................................ALICE!Benar koki restoran itu.. "A...Apa maksudmu??Aku kan hanya koki biasa!" Sanggahnya. "Ya!Lagipula dia yang menemukan mayat itu!"Tambah yang lain. "Tampang bohong seperti itulah yang kucari....kalau tidak salah.......Koki sering menggunakan pisau kan?Tapi sudah larut dan sulit sekali untuk mencari pisau itu...Apalagi pisau dengan darah Tuan kita ini..." Kataku tambah random. "ALEX! Dia itu dipukuli dan dicekik juga!Kenapa hanya pisau yang dicari???" Tony bingung. "Ohiya dipukuli itu bukan bekas yang baru saja dibuat kok!Dia sudah berkali-kali berkelahi dibelakang dengan adiknya, Robbie....Mereka selalu perang mulut dibelakang restoran karena tidak setuju soal Restoran besar ini..Yaah....kurang lebih begitu...Soalnya tadi aku melihat ada bekas cakaran di beberapa tempat tubuh Robbie, juga sedikit memar di tangan saat dia menggosok-gosok tangannya yang digigiti nyamuk..." Jelasku simple seperti biasa. "Kalau dicekik?"Tony menanyakan pertanyaan tambahan.

"Inilah kronologisnya...Jadi, sebenarnya nona kita yang satu ini sudah ada di Gudang itu sejak lama...Dia satu-satunya orang yang tau kalau Tuan John Washington ini adalah Manager sekaligus pemilik restoran ini." Yang lain memasang muka kaget saat kuberitahukan hal itu. "Tentu saja pada kaget...Bagaimana tidak?Bagaimana mungkin kan, orang yang sering datang memotret daerah sini dan selalu diusir karena dianggap mata-mata lawan usaha itu adalah manager sendiri?Wahaha!Akupun malu mengatakannya tapi begitulah!Namun ternyata..Sang Manager ini tertarik dengan koki wanita nya yang cantik ini......Manager mengajaknya ke Gudang dan mereka mulai 'bercinta'........" Aku diam menatap Alice. "Bagaimana rasanya?"Tanyaku perlahan. Dia diam. "Aku  tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya, tapi yang jelas....Setelah bercinta mereka berkelahi dan kemudian tanpa disadari Alice mencekiknya dengan tali disana.....Dan Menusuk nya dengan pisau yang dia bawa di celana nya..." Dan setelah dicek semuanya tepat. Barang bukti ada semuaa.

"Motifnya...."lanjutku.."Aku tidak bisa menolaknya.....Rasanya sangat nyaman waktu itu...Gelap..Hangat.....Namun setelah ada cahaya masuk, dia tidak ingin ada yang tahu dan mengancam akan membunuhku...Tentu aku marah.....Aku lebih baik dipecat saat itu juga, pikirku. Namun saat kuutarakan dengannya, dia mengambil pisau dan berniat membunuhku saat itu juga. Saat sadar dia sudah terkapar.......AKU MEMBELA DIRIKU PAK POLISI!!!!"Alice memotong pembicaraanku sambil menangis. "Lanjutkan dikantor saja.."kata seorang polisi.

"Hebat Alex!Satu lagi pembunuh kau tangkap tanpa tahu banyak informasi!Seperti Sherlock Holmes saja!"Puji Tony. "Aku belum sehebat itu......dan takkan sehebat itu.." Kataku kalem. "AKu berpikiran, Alice melihat memar ditubuhnya dan berpikir kalau dia orang jahat...Jadi dia berniat membunuhnya sebelum orang lain tahu dia bercinta dengan orang itu. Intinya semua yang dikatakannya tadi bohong." Kataku. "Kau seharusnya bilang dari tadi!"Tony terbelalak. "Tidak..Kalau kukatakan dia akan dihukum mati atau dipenjara seumur hidup...Seperti pasta, jika terlalu lama dimasak akan jadi lembek dan tidak enak..Jadi dia harus dimasak dengan waktu yang tepat. Dia juga sama, kalau dia terlalu lama memendam dosanya seperti itu...Semakin hari dia akan merasa bodoh dan berdosa, hingga akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Aku tahu karena dikantongnya ada pisau untuk membunuh manager itu. Dia berniat membunuh dirinya lagi. Padahal dengan bilang dia di perkosa saja dia sudah mendapat keringanan sedikit..Lagipula dia masih polos...Dia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan..Sudah saatnya dia membenahi diri."Jawabku panjang.

Tony diam saja mendengar komentarku. "Maksudku.....Kalau dia dihukum mati......Malah orang lain kan yang menambah dosa?Jadi buat apa?Hahaha!Ayo Ton!Kita rayakan selesainya kasus ini dengan cepat dan kemenangan Phoenix 8-5!"Kataku merangkul Tony. "Ya...Kau memang inspirasiku, Alex" Bisik Tony..















-------------------------The End----------------------------