Namaku Alex, aku bekerja sebagai Polisis Detektif bagian unit 3 Kejahatan Kelas Berat, seperti pembunuhan dan semacamnya. Akhir-akhir ini namaku mulai terkenal, entah apa yang membuatku seperti itu.. Yang jelas, aku hanya melakukan tugasku...
Sesampainya disana, kami memesan pasta favorite kami dan mendukung tim baseball favorite kami, Phoenix. Tim Phoenix ini sudah juara 8x berturut-turut tiap tahunnya, dan tahun ini sepertinya mereka akan memenangkan gelar lagi. "Home Run!!!" Teriak Tony dan orang-orang satu ruangan ini, "woohooo!!Skor jadi 4-0!!!" Kataku senang. Dilain pihak, pendukung visitors, Tim Rocket merasa ciut di pojokan. Sampai ada seorang anak kecil menyenggolku dan berkata, "Maaf, apakah anda Om Alex, Polisi detektif itu??". "Ya benar, ada apa, Dik?Mau ikut nonton bersamaku??" Aku balik tanya sambil tersenyum. "Tidak, bolehkah aku minta tanda tangan?" Pintanya sambil mengeluarkan buku novel Sherlock Holmes favorite ku. "Aku tersanjung boleh menandatangani salah satu novel Sherlock yang menjadi inspirasi ku... Bolehkah?" "Tentu!" Dia menyodorkan pulpen. Aku menandatangani buku itu dengan terharu.
"Semoga hari ini tidak ada kasus lagi ya!Kau ini selalu membawa kasus masalahnya!Hahaha!" "Semoga saja!Hahaha" disela bercandaan itu tiba-tiba terdengar teriakan., "KYAAAAA!!!". Tony dan aku diam. "Sial!Baru saja dibilang!"Kata Tony mengenakan jas nya, aku ikut berlari ke arah sumber teriakan itu. "Polisi!Ada apa??" Kata Tony, "A....ada mayat!!mayat!!di...di gudang dapur!!" Kata seorang wanita yang sepertinya koki disana. Tony berlari ke arah gudang. "Maaf, nama nyonya siapa ya?" Tanyaku pada wanita itu. "A...Alice Moredue.." "Baiklah, nyonya Alice..." "Panggil saja Alice" Potongnya. "Baik, Alice, bisakah kau berjaga disini dan jangan ada yang membiarkan orang masuk ataupun keluar sambil menelfon polisi?" Tanyaku. "Bisa, Pak polisi!" "Baik terima kasih bantuannya!" Aku berlari ke arah gudang mengikuti Tony.
Tim Forestik datang setelah beberapa jam ada disana. "Korban bernama John Washington, berumur 29 tahun, pekerjaannya fotografer picisan yang kurang terkenal...Penyebab kematiannya dicekik sampai mati dan kekurangan darah akibat tusukan diperut. Perkiraan waktu kematiannya antara jam 7.30 sampai 8.30 malam ini." "Berarti sudah 1 sampai 2 jam yang lalu...." Kata Tony. "Ini pembunuhan yang sadis ya..." Kataku polos, "Alex, kita sedang bekerja disini!" Kata Tony, "Aku tahu!Tapi coba kau lihat, selain dicekik dan ditusuk, orang ini juga dipukuli!Lihat mukanya! Babak belur, benjol sana-sini dan berdarah-darah.. Apa dia bertemu seseorang dan berkelahi dulu baru dibunuh??" "Kau benar..." Jawab Tony.
Tony sibuk menanyai siapa saksi yang terakhir kali melihat korban itu, ada yang mengenalnya atau tidak juga menanyai manager pemilik restoran itu. Sementara aku sibuk berpikir dalam kesendirianku. Apa benar hanya ada satu orang yang membunuhnya?Tidak mungkin satu orang!Kalaupun hanya satu orang, untuk apa dia menyiksa korban dahulu? Apa yang dia mau setelah menyekik, menusuk dan memukuli korban? Apa untuk memastikan dia sudah mati?Tapi.. Hanya dengan melihat dia setelah dicekik saja sudah ketahuan dia sudah mati... Semua pertanyaan-pertanyaan langsung muncul dibenakku. Memikirkan segala cara untuk memecahkan kasus ini.. Kasus yang merusak pertandingan seruku ini...
"Pitcher andalah tim Phoenix, Roy Stepherd mengambil ancang-ancang melempar.....Daaaaann...........Oooh strike untuk tim Rocket!Dua kali strike!! Satu strike lagi dan dia out!" Kata komentator di radio yang kudengarkan. "Hei, fokus ke pekerjaan bro!Kau mendengarkan apa?" Tanya Tony. "Lanjutan game malam ini, Roy nyaris membuat 3 pemukul strike out!" Jawabku cuek. Tony hanya geleng-geleng kepala dan melanjutkan pekerjaannya. 3 kali strike...out.... Aku tenggelam dalam kepala ku lagi.. "Hey, Tony, kau tau istilah dalam baseball yang strike kan?" Tanyaku pada Tony. "Iya, kau juga tau pastinya, untuk apa ditanya?" Jawab Tony cuek. "Aku berpikir, jika 3 kali strike out, maka mungkin ada hubungannya dengan pembunuhan ini!" Kataku semangat. Tony diam dan menengok ke arahku. "Oke-oke, begini, sekarang kita tidak sedang nonton pertandingan baseball dan kau mulai menyambung-nyambungkan dunia pembunuhan dengan baseball. Jelaskan padaku, kau berpikir apa??Kita bahkan belum menanyai para saksi!" Tony ngomel panjang lebar. "Tony...Tony.. Dude, slow down... Kau sudah bertahun-tahun mejadi sahabat dan rekan kerjaku kan? Dan kau juga pasti tahu kebiasaanku bukan? Aku pasti akan memberi tahu semua yang kuketahui padamu, Kawan!" Jawabku sambil berlalu.
Aku berjalan mengintari gudang itu. Gudang yang memiliki dua pintu, pintu dalam dan pintu luar. "Apa pembuat restoran ini bodoh ya?" Aku terkejut dan menengok ke arah suara yang berbicara itu. "Lihat, pintunya ada dua begini. Kalau pintu yang luar tidak dikunci pasti ada yang mencuri bahan masakan ini bukan?" Lanjut pria mungil itu. "Maaf, kau siapa?" Tanyaku. "Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Robbie, pemilik cafe di seberang." Katanya sambil tersenyum. "Saya Alex, polisi detektif...Maaf, apa yang anda lakukan disini jika kau pemilik Cafe itu?" Tanyaku lagi. "Tidak banyak, aku adik pemilik restoran kaya ini, namun aku tidak menyetujui usaha kakakku! Dan hari ini, malam ini tepatnya, aku disuruh kesini untuk bertemu dengan kakakku." Katanya. "Siapa nama kakakmu?" "John Washington." "Bukankah dia seorang fotografer??" Aku mulai bingung. "Ya, dia lebih sering menjadi seorang fotografer abalan dan tidak terlalu peduli dengan restoran ini. Coba saja kau tanyakan koki, pelayan atau penerima tamu restoran ini. Pasti tidak ada yang pernah melihat manager asli restoran ini!" Jelasnya. "Boleh permisi sebentar, aku harus menelfon temanku!" Kataku sambil mengeluarkan HP.
Kasus yang lebih membingungkan dari yang kukira. Apa yang sebenarnya terjadi??
Bersambung
Kepo sama kelanjutannya?Baca terus disini!
Aku berjalan mengintari gudang itu. Gudang yang memiliki dua pintu, pintu dalam dan pintu luar. "Apa pembuat restoran ini bodoh ya?" Aku terkejut dan menengok ke arah suara yang berbicara itu. "Lihat, pintunya ada dua begini. Kalau pintu yang luar tidak dikunci pasti ada yang mencuri bahan masakan ini bukan?" Lanjut pria mungil itu. "Maaf, kau siapa?" Tanyaku. "Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Robbie, pemilik cafe di seberang." Katanya sambil tersenyum. "Saya Alex, polisi detektif...Maaf, apa yang anda lakukan disini jika kau pemilik Cafe itu?" Tanyaku lagi. "Tidak banyak, aku adik pemilik restoran kaya ini, namun aku tidak menyetujui usaha kakakku! Dan hari ini, malam ini tepatnya, aku disuruh kesini untuk bertemu dengan kakakku." Katanya. "Siapa nama kakakmu?" "John Washington." "Bukankah dia seorang fotografer??" Aku mulai bingung. "Ya, dia lebih sering menjadi seorang fotografer abalan dan tidak terlalu peduli dengan restoran ini. Coba saja kau tanyakan koki, pelayan atau penerima tamu restoran ini. Pasti tidak ada yang pernah melihat manager asli restoran ini!" Jelasnya. "Boleh permisi sebentar, aku harus menelfon temanku!" Kataku sambil mengeluarkan HP.
Kasus yang lebih membingungkan dari yang kukira. Apa yang sebenarnya terjadi??
Bersambung
Kepo sama kelanjutannya?Baca terus disini!